Postingan

Dialog Warung Kopi

Gambar
Putri Sari Dewi Sketsa: Atar Abdullah Menghilangkan hakikat kopi. Tak pekat sepekat rindu Tak pahit sepahit cerita hidupku Dengan susu atau rindu itu pilihanmu. Dengan lancang kau berfatwa, di hadapan kopi berwarna yang kau hina-hina. Kulihat kau seperti pria yang hanya memuja selaput dara. Ku pesan kopi susu di kedai itu, tapi waktu datang tak terlihat seperti kopi bahkan susu, lebih terlihat minuman jus yang dulu dia anggap paling maknyus. Menghilangkan hakikat kopi yang ampasnya mengendap banyak dbawah, bukan di sekitar mulut penjaga kasir yang katanya mewah. Sudi kau terima aku di mejamu? Kutunjukkan potret kabut pagi. Lalu pengemis tanpa gigi. Lalu perempuan loper koran yang kehausan. Ketimbang kau mencaci gelasmu, sini hibahkan untukku. Kerongkonganku sudah kering sejak tadi. Tak apa ambillah gelas itu beserta isinya, tenggorokanku terlanjur muak dengan airnya. Aku lebih pilih beranjak pindah ke warung sebelah, mencari hakikat kopi yang ...

Tidak Terima

Gambar
Muhammad Ihsan Yurin Gambar oleh: M. Ihsan Yurin Aku benci mendapati kapitalisme mendominasi nurani sahabatku Aku muak menyadari sifat keji binatang bersarang lumut di dada rekanku Aku bingung harus apa karena semua mereka berpikir sama Dan aku depresi mendengar pengajar memupuk semua itu di benak mereka Kenapa aku beda? Apa aku harus juga agar selamat dari pestisida intra dan ekstra yang senantiasa mengganggu kepala? Beritahu aku Apa landasan aku menapak terlalu radikal? Apa PR-ku terlalu besar perihal mengubah mental? Aku bukan Jokowi Apalagi Prabowo Soeharto juga bukan aku sekali Aku adalah aku Aku ya aku Gitu Saya (2018)

Salahkah Aku

Gambar
Muhammad Ihsan Yurin Sketsa:  M Ihsan Yurin Mata mereka terus menyudutkanku. Jika kontras pencahayaan hari ini sedikit dinaikkan, niscaya mata mereka akan terlihat merah mengerikan bak monster di film kartun Jepang. Mereka juga berbisik agak kuat agar aku mendengar, sedang mereka tetap dalam posisi berbisik. Mereka seperti berkomplot untuk segera mengenyahkanku dari kampung ini. Memang apa yang salah denganku? Aku rasa bersikap jujur adalah keutamaan dalam hidup ini. Dan mereka membenciku karena aku jujur. Di umurku sekarang, memang aku belum memiliki seorang pun lelaki untuk kujadikan suami. Entah mengapa aku tidak merasa tergoda oleh lelaki-lelaki itu. Berahiku justru naik saat berkumpul dengan teman-temanku. Aku merasa nyaman dalam pelukan mereka. Dekapan mereka begitu tulus dan hangat. Tidak seperti lelaki. Tapi ini bukan penilaianku pada lelaki. Jujur saja, ketika aku pernah menjalin hubungan dengan seorang lelaki, air tawar lebih berasa ketimbang hubungan kami. Entah...

Kami Belum Sembuh

Gambar
Muhammad Ihsan Yurin Pagi secerah ini Aku amnesia nominal umurku berapa Semburat mentari membuat dadaku sedikit lega Berarti kiamat belum tiba saatnya Aku berjalan meniti lorong seketika teman-temanku menodong dengan sumpah serapah sumringah macam serigala malam-malam melolong Aku bengong Mereka teman-temanku? Wajahnya kurasa cukup tua Aku sebaya mereka? Masa iya? Mereka menyuguhi segumpal kertas harum isi serbuk cokelat dengan komposisi padat Komplit pemantik api besi yang sedikit berkarat "Silakan," kata mereka cepat "Ini barang laknat yang sering dihujat ustadz," aku terperanjat Senyumku palsu dan lidahku kelu mendengar mereka berbincang tanpa ampun padaku yang masih saja lupa siapa aku dan berapa umurku Mereka gila, pikirku Penggoblok sentosa yang kebal respon terhadap lawan bicara Semprul luar biasa Saat bias jingga mentari terkikis padam Pertanda tibanya sahabatku malam Akhirnya para begundal di hadapanku beranjak pulang Merek...

Hilang

Gambar
Mulya Candra Deva aku ingin bicara senja aku ingin bicara cinta tapi aku tak bisa semua sudah hilang tanpa beban hilang tanpa perasaan bergemelut dengan suara lirih dalam hati berharap rindu tapi sudah mati aku tak tahu, sebab pilu sudah menyelimutiku perasaanku hilang tanoa sebab tapi hati berharap menunggu aku pernah memintamu bahagia aku tak pernah memintamu kecewa bahkan aku tak pernah menunggumu terluka Batusangkar, 2018

Guna-Guna

Gambar
Putri Sari Dewi Di bawah pohon beringin tampak sekumpulan anak-anak tengah duduk membentuk lingkaran penuh. Mata mereka fokus pada sosok yang berada di tengah-tengah lingkaran itu. Adapun yang di tengah lingkaran tersebut tangannya menggamit sebuah buku. Sampulnya berwarna cokelat pekat, kusam, pudar dijilat waktu. Kadang buku itu dibukanya, lalu mulutnya mengulangi kata-kata di dalam buku itu. Barisan huruf bisu yang disuarakan oleh wanita itu selalu menarik. Anak-anak menyukainya, teman sebaya menyukainya, ibu-ibu di desanya juga menyukainya. Sering ketika ia berjalan menuju pohon beringin seperti biasa, ada saja tawaran untuk menikahi anak bujang ibu-ibu itu. Ia hanya akan tersenyum mendengarnya. Ia lebih menyukai buku dan segala tentang buku. Aroma, pembatas dari benang yang dipilin, warna kertas, dan banyak hal lain. Segala jenis buku ia suka, dan baca tentunya, karena itulah ia jadi berbeda dari gadis-gadis desa kebanyakan, yang polos dan lugu. Pernah ia berpikir,...

Lipatan Kain Penuh Kain

Gambar
Muhammad Ihsan Yurin Hawa dingin masih semilir ketika rumah Mak Ijang riuh dipenuhi tetangga. Mereka seakan tak percaya akan kejadian yang terjadi secepat kilat itu: Mak Ijang tewas disepak kuda kesayangannya. Kejadian itu membuat seisi kampung gempar. Mak Ijang dikenal sebagai seorang ibu yang santun, tetangga yang ramah, warga yang aktif berkegiatan, bahkan di usianya yang senja dan keadaan ekonominya yang pas-pasan, Mak Ijang sering membantu tetangga dan korban bencana Palestina. Belakangan diketahui ternyata Mak Ijanglah pelopor berdirinya Gerakan Peduli Palestina yang rata-rata beranggotakan pemuda dan pemudi yang bahu-membahu mengumpulkan bantuan untuk negara yang tengah berkonflik itu. Roni, anak Mak Ijang, sering dicekoki doktrin untuk tak menjadi manusia egois yang hanya hidup untuk kepentingan perut dan keluarga sendiri. Mak Ijang juga sering memberinya wejangan berisi  kombinasi ajaran Nabi Muhammad dan Karl Marx. Terdengar aneh memang, karena kedua ajaran...